Hujan malam ini isyarat kesedihan bersarat
Air yang terjatuh dari genting-genting
Kulihat betul setiap butirnya terjatuh
Kulihat dedaunan mengetuk tertimpanya
Apa yang kau risaukan?
Disini ku bawakan kesejukkan dalam hawa ku
Mengapa kau bersedih di belakang kaca?
Disini kututupi kesedihan mu dengan butir-butir ku yang terjatuh
Tak begitu jelas ku menatap jauh ke luar
Karena rintikannya membasahi tempat ku melihat
Remang semakin tak terlihat
Dan dingin mulai menuju
Angin dan hujan bergabung menjadi satu
Membuat ku semakin merisau
Kurasa derasnya semakin memuncak
Tak lagi ku lihat namun langsung ku merasa
Tangisku menjadi satu
Tak terlihat ku sedang bersedih
Nonnnaa..nonnaa
Lantunan itu yang ku kecapkan
Nonna..nonnaa
Jeritan nama mu yang jauh di sana kuingat
Senin, 14 Oktober 2013
pagi, siang, malam tak kunjung usai
inikah akhir sebuah mimpi
ketika penantian panjang tak kunjung usai
ketika matahari mulai menyongsong dari timur
dan saat embun membangunkan untuk pagi yang kelam
mengapa disetiap pagi
lagi dan lagi
kuharus memasang muka ceria
ketika hati hilang keceriaan
mengapa disetiap siang
lagi dan lagi
terik matahari begitu mencekik
ketika semangat sudang memuncak
mengapa disetiap malam
lagi dan lagi
dinginnya malam membuat ku terlena
menyisihkan sebuah mimpi yang tertunda
ketika penantian panjang tak kunjung usai
ketika matahari mulai menyongsong dari timur
dan saat embun membangunkan untuk pagi yang kelam
mengapa disetiap pagi
lagi dan lagi
kuharus memasang muka ceria
ketika hati hilang keceriaan
mengapa disetiap siang
lagi dan lagi
terik matahari begitu mencekik
ketika semangat sudang memuncak
mengapa disetiap malam
lagi dan lagi
dinginnya malam membuat ku terlena
menyisihkan sebuah mimpi yang tertunda
Langganan:
Komentar (Atom)