Senin, 14 Oktober 2013

hujan bersidih

Hujan malam ini isyarat kesedihan bersarat
Air yang terjatuh dari genting-genting
Kulihat betul setiap butirnya terjatuh
Kulihat dedaunan mengetuk tertimpanya

Apa yang kau risaukan?
Disini ku bawakan kesejukkan dalam hawa ku
Mengapa kau bersedih di belakang kaca?
Disini kututupi kesedihan mu dengan butir-butir ku yang terjatuh

Tak begitu jelas ku menatap jauh ke luar
Karena rintikannya membasahi tempat ku melihat
Remang semakin tak terlihat
Dan dingin mulai menuju

Angin dan hujan bergabung menjadi satu
Membuat ku semakin merisau
Kurasa derasnya semakin memuncak
Tak lagi ku lihat namun langsung ku merasa
Tangisku menjadi satu
Tak terlihat ku sedang bersedih

Nonnnaa..nonnaa
Lantunan itu yang ku kecapkan
Nonna..nonnaa
Jeritan nama mu yang jauh di sana kuingat

pagi, siang, malam tak kunjung usai

inikah akhir sebuah mimpi
ketika penantian panjang tak kunjung usai
ketika matahari mulai menyongsong dari timur
dan saat embun membangunkan untuk pagi yang kelam

mengapa disetiap pagi
lagi dan lagi
kuharus memasang muka ceria
ketika hati hilang keceriaan

mengapa disetiap siang
lagi dan lagi
terik matahari begitu mencekik
ketika semangat sudang memuncak

mengapa disetiap malam
lagi dan lagi
dinginnya malam membuat ku terlena
menyisihkan sebuah mimpi yang tertunda

Selasa, 24 September 2013

bukan sekedar kata merdeka

Merdeka...katanya!
Tetapi nyatanya?
Merdeka...katanya!
Realita nyatanya?

Perjuangan bersimbah darah
Demi satu kata yang diinginkan
Demi satu bangsa yang didambakan
Menjadi negara yang Mmeerdeka..!

Lampau bambu runcing ditangan
Tak kenal takut menumbangkan para penjajah
Kini uang ditangan
Tak kenal lelah menyisakan duka si miskin

Ialah hak segala warga negara
Negara hukum ceritanya
Tetapi hukum rimba realitanya

Kemerdekaan bukan sekedar ucapan yang mudah diucapkan
Kemerdekan harus dipertahankan
Kemerdekaan harus berlanjut
Tanpa dicampuri tangan-tangan kotor koruptor

Indah politik
Itulah yang banyak dikritik
Indahnya negara
Itulah yang didamba

Mentari timur mulai meninggi
Dan sang merah putih siap berkibar
Di langit indonesia
Biru meluas

Mmerdeka..merdeka
Ini bumi kecintaan
Ini tanah lahir kita
Dan ini tempat terakhir kita
Merrdeka..

#HUT RI ke-68
#indonesia merdeka

Pesan sebuah seruling

mengapa setiap malam begitu sepi...
sepi begitu dekat
hingga tak menyisakan jarak

mengapa setiap malam begitu dingin..
dingin dalam renungan
menatap-menitip pesan yang tak terbalaskan

mengapa setiap malam penyesalan selalu muncul
muncul dalam benak
hingga ku teranak sedih

dari serambi tempatku terdiam
alunan suara lembut membalut sukma
alunan yang bercampur belaian angin
dipandu cahaya bulat bundar penuh

Irama,Rima,Imajinasi berkolaborasi menjadi
Indah,syahdu, dalam rasa
enkode-enkodenya terasa begitu menghanyutkan
hingga dekode-dekode terasa begitu nyata

Irama,Rima,dan syahdunya
seakan membawakan diri ini pada imajinasi tertinggi
seakan ingin menyampaikan apa yang tak mampu dibahasakan
seakan ingin ku bernyanyi"kasih tak sampai"

mengapa setiap malam selalu ada ceria di akhir
ketika bergantinya dunia nyata
berganti dunia tidur
dan ingin kusampaikan "aku cinta kamu"

Rabu, 22 Mei 2013

Berteman dengan asap



Asap menyelimuti disiang gelap
Menerjang kekosongan hidup
Sugesti terasa begitu dekat
Sejengkal didepan mata

Imajinasi menjadi majas
Agar terasa jelas
Kubuat perahu kertas
Tuk kulajukan pada asap yang berterbangan

Dikursi tua ini kududuk
Dengan gitar sebagai pengiring khayalku
Dan sepercik api kunyalakan
Tuk berteman dengan segumpalan asap

Banyak yang lalau lalang didepanku
Tanpa tengokan kudapat
Dan biarkan awan menyelimuti
Memberikan kesejuka disiang ini

Aku ini apa??
Mengapa denganku?
Mengapa meraka mengacuhkan
Tak menganggapku ada

Hanya berharap waktu tuk merubah
Merubah situasi yang terjadi
Dan biarkan detik
Memasak pribadi unggulku

Rabu, 27 Februari 2013

perahu kehidupan


Kemarahan seakan hinggap menghampiri
Semua emosi menerjang kendali
Hingga sulit kukendalikan
Hingga langitpun mencurahkan isinya

Dimana kudapat belabuh
Ketika semua dermaga tak dapat kusinggahi
Didepan batu karang
Yang menunggu tuk didekati
Lautan dangkal
Hingga susah tuk merapat

Melanjutkan kembali pelayaran tanpa batas
Mengembangkan layar
Dan merasakan dinginnya lautan
Hingga merasuk menyelimuti ditiap harinya

Ketika pagi datang
Terbitlah keindahan dengan sinar yang menghangatkan
Ketika malam datang
Kurasakan dingin begitu kurasa

Tenang,ikhlas
Itu modalku berlayar
Karena setelah badai yang begitu menakutkan datang
Setelahnya akan ada pelangi yang indah menghiasi mata

Kamis, 14 Februari 2013

bumi sudah tua

apa kau rasa bumi sudah tua
tak kan mampu menompang hidup kita
apa kau tau tuhan sudah muak
terhadap kita yang melunjak

gunung akan muntah
ketika kau bertingkah
laut akan meludah
ketika kau berubah


apa kau ingin menghancurkan dunia
dengan tingkamu yang bertingkah
dengan gayamu yang mewah
dengan sifatmu yang serakah

bumi akan aman
jika kau tak ikuti zaman
laut akan tenang
bila kau tak berenang
dengan senang tanpa membimbang

kau sangat tau diriku terikat
tapi tak pernah kau coba merapat
kau mengharapkan manfaat
sampai kau tak pikirkan akibat

rasaku ingin kabur
ingin hasratku tuk melebur
ingin ku tuk keluar
dari tingkahmu yang tak bisa diatur

sungguh ku tak kuat mengangkat bebanmu
yang tak menganggapku
jika tuhan menyuruhku
kutak kan kembali mengenalmu